Pemeliharaan dan Pemupukan Tanaman Jahe
Penyiangan gulma pada tanaman jahe sebagai tanaman herbal Indonesia diperlukan agar tanaman jahe tidak bersaing dalam mendapatkan unsur hara yang ada didalam tanah. Adanya gulma akan mengurangi pertumbuhan dan produktivitas tanaman jahe, oleh karena itu perlu dilakukan penyiangan tanaman pengganggu atau gulma disekitar tanaman.
Penyiangan gulma dilakukan sebagai bagian dari pengelolaan tanaman jahe yang dilakukan sebelum pemberian mulsa, kemudian diulangi yang dilakukan dengan melihat intensitas pertumbuhan gulma atau dilakukan 45-60 hari setelah penanaman. Dijaga agar tidak mengganggu rimpangnya, tidak boleh terluka baik rimpangya atau tuas akarnya. Kalau terjadi gangguan pada rimpang dan tunas akarnya akan mengurangi produk herbal yang dihasilkan.
Sebagaimana tanaman herbal lainnya, tanaman Jahe perlu dilakukan pemupukan. Pemupukan dengan kompos diberikan kurang lebih 25-30 ton / hektar yang diberikan pada saat tanam. Pemberian pupuk anorganik tergantung pada kesuburan tanah dan pupuk organik yang digunakan. Pupuk anorganik yang diberikan pada tanaman jahe setiap hektar-nya yaitu Nitrogen kurang lebih 100-120 kg., fosfor sekitar 75-80 kg, dan Kalium sekitar 100 -120 kg. Perlu juga menambahkan 20-25 kg elemen sulfur pada saat persiapan lahan untuk memperbaiki kekurangan belerang. Setengah dari jumlah nitrogen, fosfor dan kalium harus diberikan sebagai dasar pemupukan, dua dosis nitrogen diberikan pada 45 dan 90 hari setelah tanam.
Penyiraman air tanaman disesuaikan dengan musim. Pada musim kemarau penyiraman dilakukan minimal satu hari sekali tergantung jenistanah atau porusitas tanahnya. Setelah musim hujan datang penyiraman disesuaikan dengan intensitas hujannya.
Incoming search terms:
- penanaman jahe
- perawatan tanaman jahe
- pupuk untuk jahe
- cara pemupukan jahe
- pupuk jahe
- pemeliharaan jahe
- pemupukan jahe
- tanaman jahe
- pemeliharaan tumbuhan
- tanamanjahe
